MENEGUHKAN ARAH PERJUANGAN WAHIDIYAH

MENEGUHKAN ARAH PERJUANGAN WAHIDIYAH

(PSW Jombang dan Ikhtiar Menjaga Warisan Spiritual Muallif)


Oleh:

Dr. H. Susilo Surahman, S.Ag., M.Pd., MCE.

Kabid. Organisasi DPW-PSW-JOMBANG-DIY


Perjalanan sebuah gerakan besar tidak pernah berhenti pada sosok pendirinya. Justru, ujian sesungguhnya dimulai ketika sang pendiri telah menuntaskan pengabdiannya dan meninggalkan warisan yang harus dijaga, dikembangkan, serta diteruskan oleh generasi berikutnya. Sejarah mencatat bahwa hampir semua gerakan keagamaan, sosial, maupun kebangsaan mengalami dinamika dalam proses regenerasi. Demikian pula yang terjadi dalam perjalanan Wahidiyah pasca wafatnya Muallif, KH. Abdul Madjid Ma'ruf. Dinamika yang muncul merupakan bagian dari proses sejarah yang tidak dapat dihindari. Namun, di tengah berbagai perkembangan tersebut, terdapat satu pertanyaan mendasar yang perlu terus dijawab: bagaimana warisan spiritual Muallif dapat tetap hidup dan memberikan manfaat bagi umat?


Dalam pandangan penulis, jawaban atas pertanyaan tersebut tidak cukup hanya ditemukan dalam romantisme sejarah atau kebanggaan terhadap masa lalu. Warisan Muallif harus diwujudkan dalam gerakan nyata yang mampu membina manusia, memperkuat spiritualitas, dan menghadirkan kemaslahatan sosial. Di sinilah keberadaan Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) Jombang menemukan relevansinya sebagai wadah perjuangan yang berupaya menjaga kesinambungan nilai-nilai yang telah diwariskan oleh Muallif.


Warisan terbesar Muallif sesungguhnya bukan hanya rangkaian lafal Sholawat Wahidiyah yang terus dibaca oleh para pengamal di berbagai daerah. Lebih dari itu, beliau mewariskan cara pandang spiritual yang menempatkan Allah Swt. sebagai tujuan utama kehidupan, Rasulullah saw. sebagai teladan dan pembimbing, serta akhlak sebagai ukuran keberhasilan seorang hamba. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi yang membentuk karakter pengamal Wahidiyah agar senantiasa berusaha memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan memberikan manfaat kepada lingkungan sekitarnya.


Nilai-nilai itu tidak mungkin bertahan hanya dengan mengandalkan semangat individu. Pengalaman menunjukkan bahwa setiap perjuangan memerlukan sistem, pembinaan, dan wadah yang mampu menjaga kesinambungan gerakannya. Tanpa adanya organisasi yang terstruktur, proses kaderisasi akan berjalan tidak optimal, pembinaan menjadi sporadis, dan semangat perjuangan berpotensi melemah seiring pergantian generasi. Karena itulah organisasi tidak dapat dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen yang memungkinkan nilai-nilai perjuangan tetap hidup dan berkembang.


Dalam konteks tersebut, PSW Jombang hadir sebagai salah satu ikhtiar untuk menjaga keberlanjutan perjuangan Wahidiyah. Melalui berbagai program pembinaan, mujahadah, pendidikan kader, dan penguatan organisasi, PSW Jombang berupaya menciptakan ruang bagi para pengamal untuk terus bertumbuh, baik secara spiritual maupun sosial. Kehadiran organisasi bukan semata-mata untuk membangun struktur administratif, melainkan untuk memastikan bahwa pesan-pesan luhur Muallif dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya secara terarah dan berkesinambungan.


Peran tersebut menjadi semakin penting di tengah tantangan zaman yang terus berubah. Saat ini, masyarakat hidup dalam era yang ditandai oleh derasnya arus informasi, perubahan pola interaksi sosial, dan munculnya berbagai tantangan moral yang semakin kompleks. Generasi muda menghadapi lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Kemudahan akses informasi sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan menyaring dan memahami informasi secara kritis. Akibatnya, tidak sedikit nilai-nilai spiritual yang mulai terpinggirkan oleh budaya instan dan orientasi materialistik.


Dalam situasi seperti itu, pembinaan yang sistematis menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Kehadiran PSW Jombang memberikan ruang bagi warga Wahidiyah untuk memperkuat pemahaman, meningkatkan kualitas pengamalan, dan membangun solidaritas dalam bingkai perjuangan bersama. Berbagai kegiatan yang diselenggarakan tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran sosial, semangat pengabdian, serta tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.


Namun demikian, menjaga warisan spiritual Muallif tidak berarti menutup mata terhadap adanya perbedaan pandangan di kalangan pengamal Wahidiyah. Dinamika yang berkembang pasca wafatnya Muallif merupakan realitas yang tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi, perbedaan tersebut tidak seharusnya mengalihkan perhatian dari tujuan utama perjuangan. Fokus utama Wahidiyah sejak awal adalah mendekatkan manusia kepada Allah Swt., memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw., serta membentuk pribadi yang berakhlak mulia. Tujuan luhur inilah yang semestinya menjadi titik temu bagi seluruh pihak yang mencintai dan mengamalkan Wahidiyah.


Oleh karena itu, semangat persaudaraan perlu terus dijaga. Perbedaan pilihan organisasi tidak boleh menjadi alasan untuk memutus ukhuwah atau menumbuhkan sikap saling merendahkan. Justru dalam situasi yang beragam, kedewasaan sikap menjadi semakin penting. Sejarah Islam telah menunjukkan bahwa perbedaan pandangan dapat dikelola dengan baik selama dilandasi oleh adab, penghormatan, dan tujuan yang sama. Semangat itulah yang perlu terus dikembangkan dalam kehidupan warga Wahidiyah di berbagai tempat.


Selain menjaga persaudaraan, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah mempersiapkan generasi penerus perjuangan. Tidak dapat dimungkiri bahwa masa depan Wahidiyah berada di tangan generasi muda. Mereka adalah pewaris yang akan menentukan apakah nilai-nilai yang diwariskan Muallif akan tetap hidup atau justru kehilangan relevansinya. Karena itu, proses kaderisasi harus menjadi perhatian bersama. Generasi muda perlu diberikan ruang untuk belajar, berkontribusi, dan mengembangkan kreativitasnya tanpa kehilangan akar spiritual yang menjadi ciri khas perjuangan Wahidiyah.


Dalam konteks ini, organisasi memiliki peran strategis sebagai jembatan antara warisan masa lalu dan kebutuhan masa depan. Organisasi yang sehat bukan hanya mampu menjaga tradisi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya. Kemampuan inilah yang akan menentukan sejauh mana perjuangan Wahidiyah dapat terus memberikan kontribusi bagi umat, bangsa, dan negara.


Pada akhirnya, meneguhkan arah perjuangan Wahidiyah bukanlah persoalan mempertahankan simbol atau memenangkan perdebatan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa nilai-nilai yang diwariskan Muallif tetap hadir dalam kehidupan nyata. Warisan spiritual tidak akan hidup hanya melalui slogan dan kenangan, tetapi melalui pengamalan yang konsisten, pembinaan yang berkelanjutan, serta pengabdian yang tulus kepada masyarakat.


PSW Jombang memaknai perjuangan tersebut sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Amanah untuk menjaga, meneruskan, dan mengembangkan nilai-nilai Wahidiyah agar tetap relevan di setiap zaman. Sebab keberhasilan sebuah perjuangan pada akhirnya tidak diukur dari besarnya organisasi atau banyaknya pengikut, melainkan dari sejauh mana perjuangan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang lebih dekat kepada Allah, lebih mencintai Rasulullah, lebih berakhlak mulia, dan lebih bermanfaat bagi sesama. Di situlah warisan spiritual Muallif menemukan makna sejatinya, dan di situlah arah perjuangan Wahidiyah layak untuk terus diteguhkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI TENGAH RIUH RUPIAH DAN TEKANAN HIDUP

Musyawarah Wilayah PSW Jombang DIY Sukses Digelar, Pengurus Baru Periode 2026–2031 Resmi Dilantik

Pembuka Blogspot PSW Jombang DPW DIY