MUJAHADAH KUBRO: BUKAN ARENA MEMBESARKAN “AKU”, TETAPI TEMPAT MELULUHKAN DIRI
MUJAHADAH KUBRO: BUKAN ARENA MEMBESARKAN “AKU”, TETAPI TEMPAT MELULUHKAN DIRI
Oleh:
Dr. H. Susilo Surahman, S.Ag., M.Pd., MCE.
Mujahadah Kubro bukanlah sekadar pertemuan rutin enam bulan sekali. Ia adalah momentum perjuangan besar untuk meluluhkan diri di hadapan Allah, menumbangkan kesombongan, dan mengikis keakuan yang sering tersembunyi dalam hati.
Hakikat mujahadah adalah jihad melawan diri sendiri. Bukan melawan orang lain, bukan untuk terlihat paling khusyuk, bukan untuk dianggap paling setia. Justru ia adalah latihan spiritual agar hati semakin rendah, semakin lembut, dan semakin tunduk kepada Allah. Penyakit terbesar bukanlah kurang ibadah atau kurang ilmu, melainkan rasa “aku lebih baik” yang pernah menjatuhkan Azazil.
“Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
(QS. Al-A’raf: 12)
Kalimat pendek itu menjadi sebab kehancuran, karena di dalamnya ada bendera “aku” yang dikibarkan. Maka mujahadah sejati adalah jihad melawan ego yang ingin dipuji, dihormati, dan diakui.
Dalam ajaran Shalawat Wahidiyah terdapat pengetrapan mendalam: “Faqod dholamtu abadan wa robbanii.” Sungguh, aku adalah manusia yang selalu dholim. Kalimat ini bukan untuk menjerumuskan pada putus asa, melainkan untuk menghancurkan rasa suci palsu dan kesombongan halus. Ia mengingatkan bahwa kita sering dholim: menunda taubat, meremehkan dosa, merasa amal cukup, atau memandang rendah saudara.
Menjadi “nol” bukan berarti berhenti berjuang, tetapi berarti tidak mengaku bahwa amal dan kemampuan berasal dari diri sendiri. Hadir di Mujahadah Kubro, bershalawat, menangis, berkorban—semua itu karena Allah memberi kekuatan. Semakin banyak perjuangan, seharusnya semakin kecil rasa “aku”.
Allah berfirman:
“Maka larilah kamu kepada Allah.”
(QS. Adz-Dzariyat: 50)
Fafirru ilallooh adalah ruh Mujahadah Kubro: lari kepada Allah dengan hati yang hancur, dengan ego yang ingin diluluhkan, dengan pengakuan bahwa kita lemah tanpa pertolongan-Nya.
Mujahadah Kubro harus menjadi titik balik. Jangan pulang membawa ego yang sama. Jangan hanya bangga hadir, tetapi lupa apakah Allah menerima kehadiran kita. Yang terpenting bukan bagaimana kita datang, melainkan bagaimana kita pulang: membawa hati yang lebih tunduk, lisan yang lebih lembut, jiwa yang lebih syukur, dan tekad untuk menumbangkan bendera “aku” dalam hati.
Doa kita:
Ya Allah, luluhkan ego kami. Tumbangkan bendera “aku” dalam hati kami. Jadikan kami hamba yang nol, rendah hati, dan selalu membutuhkan pertolongan-Mu. Bimbing kami agar pulang dari Mujahadah Kubro bukan hanya membawa kenangan, tetapi membawa perubahan. Dari merasa mampu menjadi merasa butuh kepada-Mu. Dari merasa ada menjadi nol. Dari nol, kami berlari menuju-Mu. Fafirru ilallooh.
Komentar
Posting Komentar