PENGGHIBAH DAN PEMFITNAH: MUNGKIN MEREKA ADALAH "PENOLONG" YANG TAK KITA SADARI
PENGGHIBAH DAN PEMFITNAH: MUNGKIN MEREKA ADALAH "PENOLONG" YANG TAK KITA SADARI
Oleh
Dr. Susilo Surahman
Luka Karena Ghibah dan Fitnah
Ketika ada orang mengghibahi kita, hati terasa sakit.
Ketika nama baik kita difitnah, dada terasa sesak.
Kita ingin membela diri, ingin membalas, ingin menjelaskan kepada semua orang bahwa tuduhan itu tidak benar.
Namun para ulama mengajarkan cara pandang yang berbeda—cara pandang yang lahir dari hati yang mengenal Allah.
Mereka berkata: “Boleh jadi orang yang mengghibahimu sedang memberikan sebagian pahala amalnya kepadamu. Dan boleh jadi ia sedang memikul sebagian dosa yang seharusnya menjadi bebanmu.”
Maka pertanyaannya: siapakah sebenarnya yang sedang merugi?
---
Ghibah Tidak Mengurangi Kehormatan
Ketika seseorang membicarakan keburukan saudaranya, yang rusak pertama kali bukanlah nama orang yang dibicarakan, melainkan kebersihan hati orang yang membicarakan.
Rasulullah ﷺ bersabda: pada hari kiamat akan datang orang dengan banyak amal—shalat, puasa, sedekah. Namun karena ia pernah mencaci, memfitnah, mengambil hak, dan menyakiti orang lain, amalnya diberikan kepada orang yang ia zalimi. Jika amalnya habis sebelum semua kezalimannya selesai, maka dosa orang-orang yang dizalimi dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.
Betapa mengerikan. Lisannya bisa menghapus pahala yang dikumpulkan bertahun-tahun.
---
Mengapa Masih Sibuk Membalas?
Jika kita yakin Allah Maha Adil, mengapa masih sibuk membalas?
Mengapa masih ingin memperpanjang permusuhan?
Allah adalah sebaik-baik Hakim. Membela kebenaran boleh, tetapi jangan biarkan hati dipenuhi dendam. Sebab dendam lebih menyiksa diri sendiri daripada orang yang kita benci.
---
Bahaya Menjadi Pengghibah
Saudaraku, jangan terlalu sibuk memikirkan siapa yang mengghibahi kita. Lebih baik kita takut: jangan-jangan justru kita yang sedang mengghibahi orang lain.
Lisan ini ringan, satu kalimat keluar, tetapi akibatnya bisa dibawa sampai hari kiamat. Kadang kita berkata: “Cuma cerita kok… Cuma bercanda… Ini kan fakta…”
Padahal jika saudaramu tidak suka ketika aibnya dibicarakan di belakangnya, itulah ghibah. Rasulullah ﷺ telah memperingatkan bahayanya.
---
Ilmu Nol: Tidak Sibuk Dengan Kesalahan Orang
Mengapa kita mudah membicarakan kekurangan orang lain? Karena ego masih hidup: “Aku lebih baik. Aku lebih benar. Aku tidak seperti dia.”
Inilah penyakit Azazil. Selama bendera “aku” masih berkibar, lisan mudah menghakimi, mata mudah mencari kesalahan, hati sulit melihat kekurangan diri sendiri.
Tetapi ketika seseorang menjadi “nol”, ia lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada mengurusi aib saudaranya. Ia berkata dalam hati: “Faqod Dholamtu Abadan Wa Robbanii – sungguh akulah yang selalu menzalimi diriku sendiri.”
Kalimat ini menghancurkan rasa ingin merasa lebih suci daripada orang lain.
---
Doakan, Jangan Balas
Jika ada orang mengghibahimu, berdoalah:
“Ya Allah, ampunilah dia sebagaimana aku berharap Engkau mengampuni diriku.”
Jika ada yang memfitnahmu, serahkan kepada Allah. Tidak ada keputusan yang lebih adil daripada keputusan-Nya.
Dan jika suatu hari engkau tergoda membicarakan keburukan orang lain, ingatlah: mungkin saat itu engkau sedang memindahkan pahalamu kepada orang tersebut. Betapa ruginya.
---
Siapa yang Sebenarnya Menang?
Di dunia, mungkin orang yang memfitnah terlihat menang. Namanya didengar, ucapannya dipercaya. Tetapi di akhirat, semua akan dibuka. Tidak ada satu pun kata yang hilang dari catatan Allah.
Maka jangan iri kepada orang yang menyakitimu. Kasihanilah dia. Karena jika ia tidak bertaubat, ia sedang menukar pahalanya dengan dosa yang bukan miliknya.
---
Mujahadah
Ya Allah, jagalah lisan kami dari ghibah, fitnah, dan segala ucapan yang menyakiti saudara kami.
Jika kami pernah mengghibahi orang lain, ampunilah kami.
Jika kami pernah difitnah, lapangkan hati kami untuk memaafkan.
Jangan jadikan kami sibuk mencari aib manusia, tetapi sibukkanlah kami melihat kekurangan diri sendiri. Luluhkan ego kami, hancurkan rasa “aku lebih baik.”
Jadikan lisan kami hanya basah dengan dzikir, shalawat, dan kata-kata yang membawa kebaikan. Agar ketika kami pulang menghadap-Mu, kami tidak membawa pahala yang telah habis karena lisan kami sendiri.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Hidup sekali harus berarti.
Komentar
Posting Komentar